Kabut turun di jalan berkelok dan menanjak. Sejauh mata memandang, gunung Dataran Dieng, Sindoro dan Sumbing, pepohonan, bentangan sawah dan rumah-rumah seakan tenggelam sekian meter di bawah "lautan" pulau Jawa. Riap lampu kendaraan yang sesekali melintas menjelma sulur mercusuar. Satu dua kendaraan baik yang menuju kota kecil Wonosobo maupun mereka yang hendak menuju puncak Dieng tak ubahnya iringan perahu, bergerak pelan menuju pelabuhan dan pangkalan.

Kami yang hendak menuju puncak mesti berhati-hati melintasi jalan. Tidak, kami tidak tegang lantaran jalanan yang berselempang kabut. Tapi karena semata-mata perasaan dan pikiran terlampau takjub. Perasaan dan pikiran kami bagai di bawah berpetualang ke hamparan semesta raya. Di sini, kami seperti diingatkan kembali bahwa kebahagiaan dan kesedihan hanya setipis lapis awan di angkasa raya.

Sepanjang jalan menuju puncak Dieng kami hanya bisa berseru kagum, indahnya. Lihatlah, kabut yang perlahan-lahan mengambang sebelum akhirnya membubung ke udara hingga gugusan kabut tak tertangkap pandang. Lihatlah, puncak Dieng seperti menyingkap lanskap, mendedah keindahan yang lain saat malam tiba. Riap lampu nun jauh di kota kecil Wonosobo menjelma seribu kunang-kunang berkemeriap, manjakan mata kami.

***

Dieng berasal dari kata sansakerta "di" yang berarti tempat, dan “hyang”, tempat para dewa-dewi beratus-ratus tahun silam. Kini Dieng menjadi tempat wisata dengan latar alam, bukit dan pegunungan. Tempat wisata alam yang terletak di desa Sembungan, 30 km dari pusat kota Wonosobo ini tak ubahnya seorang "ibu" yang di kelilingi "anak" aneka tempat wisata yang senantiasa mengulum senyum dan menawarkan sulur warna keindahan alam.

Nikmatilah busur warna Telaga Warna, telaga yang sesekali menjelma warna pelangi ini dikitari gundukan-gundukan bukit kecil. Tak jauh dari Telaga Warna ada sebuah gua dan Komplek Pertapaan Mandalasari, di dalam gua sewaktu-waktu digelar upacara ritual yang menjadi bagian proses ritual pemotongan rambut gimbal atau anak gembel.

Tanda-tanda anak yang terkena gimbal bisa diketahui semenjak anak berusia 40 hari sampai 6 bulan. Kalau di sela helai-helai rambutnya terdapat rambut yang tergelung, wajib hukumnya bagi orang tua melakukan upacara ritual pemotongan rambut gimbal. Bila tidak, maka sepanjang hidup si anak atau keluarga akan selalu senantiasa bersua bala.

Ada beberapa ritual sebelum sebelum pemotongan rambut gimbal dihelat; berdoa di beberapa tempat yang diyakini sebagai tempat keramat seperti di candi dan gua hingga nanti pemotongan rambut berjalan lancar, beroleh restu dari leluhur.

Tentu saja saat ini kami tak bisa menyaksikan secara langsung bagaimana upacara ritual rambut gembel ini berlangsung.

Jika anda ingin menyaksikan langsung bagaimana upacara ritual pemotongan rambut gimbal, datanglah pada bulan Juni. Di sini, di dataran Dieng yang permai dan sejuk ini dihelat upacara ritual rambut gimbal.” jawabnya.

Selepas menikmati sulur warna-warna Telaga Warna mendakilah ke bukit yang lebih tinggi: kurang-lebih 2.300 meter sepasang mata kami pun disuguhi pemandangan Telaga Cebong yang bening terbentang. Ah, di telaga ini marilah sedikit berimajinasi, berperahu, ya, berperahu di atas gunung, berpeluk mesra dengan angin pegunungan, dan bernyanyi.

Selepas menyusuri, menikmati dan "berpeluk" mesra di tepi telaga kami pun tak sabar ingin bersua dengan "anak kandung" Dieng yang lain, yakni melihat dan sekaligus mengenali nama-nama candi yang diambil dari nama-nama tokoh dalam cerita epik Mahabrata, seperti candi Bima, Candi Semar, Durga Mahesasura, Mardini, Ganesa dan candi Arjuna yang mirip dengan candi Parasurameswara jauh di India sana.

Tentu, sebagai seorang "ibu", Dieng tak ingin membiarkan anak-anaknya buta silsilah --asal mula-- Dieng dan bagaimana telaga warna dan candi-candi itu ada. Maka, kami pun memasuki home theatre, dari sinilah kami pun menjadi tahu asal-muasal Dieng.

***

Hari sudah larut malam ketika kami tiba di desa Sembungan. Udara yang dingin seakan mendorong keinginan kami mendesak waktu agar lekas tiba di ambang pagi. Untuk menghangati tubuh yang disekap hawa dingin kami pun berjalan-jalan di sekitar lereng. Kami melewati penginapan-penginapan yang berjejer sepanjang jalan sebelum akhirnya berhenti di sebuah warung dekat parkiran, di warung inilah Dieng dan Sikunir seakan tak puas hanya dengan memanjakan mata kami, disediakanlah minuman dan jajanan yang menjadi ikon Wonosobo, yakni kopi purwaceng, tempe kemul dan mie ongklok.

Di sela-sela menikmati minuman dan makanan Wonosobo ini ada seorang lelaki datang menawarkan jasa, hendak mengantar kami mendaki puncak Sikunir, sebuah dataran tertinggi di pulau Jawa.

"Untuk mencapai puncak Sikunir dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam dengan berjalan kaki." tuturnya dengan nada hangat.

Waktu memasuki jam 04.00 tiba saatnya kami bergerak, menyusuri jalan setapak mendaki ke puncak Sikunir. Di puncak Sikunir inilah mata kami nanti akan dimanja oleh pemandangan matahari yang perlahan-lahan terbit.

Benar saja, ketika kami di tiba di puncak Sikunir beberapa tenda pengunjung lain yang datang dan bermalam puncak Sikunir ini sudah terpasang, pengunjung-pengunjung itu berkelompok ada yang duduk di antara gundukan kayu bakar, ada sepasang muda-mudi hangat berpelukan. Ah, indahnya, gumam saya dalam hati.

Sulur fajar mekar, riap-pijar matahari yang menyusup lewat sela-sela gugusan awan tampak kemerah-merahan menembus lapisan awan yang berarak pelan. Dan, asytaga, mendadak mata kami dikejutkan oleh tiga gundukan dari balik awan. "Itu gunung Sumbing," teriak seorang gadis.

"Tidak itu Gunung Sindori,” timpal teman di sampingnya. “Nah, kalau yang itu Gunung Dieng."

Sesaat suasana hening pengunjung-pengunjung yang datang lebih awal daripada kami sontak berteriak dan berjingkrak, Matahari telah terbit!

Bila selama ini kita selalu memandang gunung dan matahari dengan mata dan kepala mendongak, itu tidak berlaku di puncak Sikunir. Ya, kami seperti bermuka-muka dan tiga gunung dan matahari itu posisinya sedikit di bawah kami. Kami di atas.

Kehidupan di dataran Dieng pun berdetak. Tampak beberapa penduduk berjalan beriring, meniti pematang. Satu dua pengunjung pun beranjak dengan wajah bahagia, puas dan mengulum senyum.

Saya sendiri entah mengapa tak bisa berpaling masih terpaku, memandang takjub pada tiga gunung yang berselempang awan, gunung yang ada beberpa meter ada di bawah saya. Takjub pada matahari yang tersaji hangat, pada pemandangan sekitar Sikunir yang damai dan sejuk.

Hingga hari menjelang siang, rasa-rasanya alam Sikunir terus mendesir di dalam hati mengikat batin dan kegika seorang teman mengajak turun dan pulang, tib-tiba ingat sebuah narasi dalam cerita silat Genta Penakluk Bunga, karangan Hu Hua Ling:

Ketika matahari beranjak naik, bunga-bunga gugur, roda-roda berderak dan kereta segera diberangkatkan bagaimana dengan kenangan?

Ya, kenangan akan alam Dieng dan Sikunir yang terus mendesir dipuat dada. Apakah semua kenangan di Puncak Dieng dan Sulur Sikunir ini akan berlalu sesaat setelah kita kembali disibukkan kehidupan sehari-hari?

Tepi Kali Bedog, Februari, 2015

 


 

 

 

 


Mata Bening Telaga Dieng ditulis oleh Mahwi Air Tawar

MAHWI AIR TAWAR, lahir di Pesisir Sumenep, Madura, 28 Oktober 1983. Cerpen dan puisinya dimuat di Kompas, Jawa Pos, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Bali Post, Horison, Jurnal Cerpen Indonesia, Jurnal Sajak, dll, selain termuat dalam antologi bersama Salah satu cerpennya “Pulung” terpilih sebagai cerpen terbaik dalam lomba yang digelar oleh STAIN Purwokerto (terkumpul dalam buku Rendezvouz di Tepi Serayu, 2008-2009). Kumpulan cerpen yang pertama, Mata Blater (2010), mendapatkan penghargaan dari Balai Bahasa Yogyakarta (2011). Ia mengikuti Bengkel Penulisan Kreatif Mejelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) untuk esai (2014). Buku cerpennya yang baru adalah Karapan Laut (2014).